Kamis, 20 Oktober 2011

Conto Masyarakat Sunda Yaitu Masyarakat Baduy yang mengelola                            Hutan dan Lingkungan

Anak-anak Baduy berbalut busana adat
Masyarakat Baduy adalah kelompok masyarakat Sunda yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten (Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak, 2001).  Masyarakat Baduy ini merupakan salah satu suku di Pulau Jawa yang hidupnya mengasingkan diri dari keramaian dan tidak mau tersentuh oleh kegiatan pembangunan.  Di perkampungan Baduy tidak ada listrik, tidak ada pengerasan jalan, tidak ada fasilitas pendidikan formal, tidak ada fasilitas kesehatan, tidak ada sarana transportasi, dan kondisi pemukiman penduduknya sangat sederhana.  Aturan adat melarang warganya untuk menerima modernisasi pembangunan. Untuk mencapai ke lokasi pemukiman, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak tanpa pengerasan.  Masyarakat Baduy menempati wilayah seluas 5.101,8 hektar berupa hak ulayat yang diberikan oleh pemerintah.
Pola kehidupan masyarakat Baduy sangat ditentukan oleh aturan-aturan dan norma-norma  yang berperanan penting dalam proses kehidupan sosial mereka, yang membentuk homogenitas prilaku dan sosial ekonomi masyarakatnya.  Hikmahnya agar mereka mampu memperkokoh benteng kehidupan anak turunan, menjalin tatanan hidup yang terus berkesinambungan dan dominan.  Aturan dan norma itu dijabarkan dalam suatu hukum adat, yang berperan sebagai alat pengayom bagi seluruh warga sehingga mampu menggiring semua warganya kepada tertib hukum, untuk mampu mematuhi hak dan kewajibannya.  Mampukah aturan adat masyarakat Baduy bertahan dalam kondisi modernisasi yang pesat  dengan luas lahan pertanian yang dimilikinya  terbatas ?
Perubahan sosial dan budaya masyarakat Baduy dikatagorikan ke dalam perubahan statis, karena perubahan sosial yang terjadi sangatlah lambat.  Sampai sekarang terlihat pola kehidupan yang sangat berbeda dengan masyarakat luar pada umumnya.  Walaupun demikian, sengaja atau tidak disengaja telah terjadi perubahan sosial di pemukiman masyarakat Baduy.  Perubahan penentuan masa bera lahan pertanian yang semula 7 tahun ke atas, sekarang hanya 5 tahun bahkan 3 tahun merupakan salah satu indikator terjadinya perubahan itu.  Pertambahan penduduk yang menyebabkan berkurangnya lahan garapan adalah pangkal dari terjadinya perubahan sosial ini; karenanya itu  masyarakat Baduy mulai melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk mempertahankan hidupnya.
Saat ini terlihat perbedaan yang jelas pada kehidupan masyarakat Baduy-Luar dan Baduy-Dalam.  Perubahan status masyarakat telah terjadi pada kehidupan masyarakat Baduy.  Awalnya semua masyarakat Baduy harus ikut bertapamenjaga alam lingkungannya; sekarang ini hanya Baduy-Dalam yang tugasnyabertapa, Masyarakat Baduy-Luar tugasnya hanya ikut menjaga dan membantutapanya orang Baduy-Dalam. Masyarakat Baduy-Luar mulai diperbolehkan mencari lahan garapan ladang di luar wilayah Baduy dengan cara menyewa tanah, bagi hasil, atau membeli tanah masyarakat luar.  Untuk menambah pendapatannya pada lahan mereka di luar Baduy, diperbolehkan ditanami beberapa jenis tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, kakao, dan karet yang di wilayah Baduy dilarang.  Hubungan yang terbina karena “bisnis” sewa menyewa dan jual beli ladang, membentuk suatu interaksi yang cukup antara masyarakat Baduy dengan masyarakat luar.  Interaksi ini berdampak pada perubahan tingkah laku dan pola hidup masyarakat Baduy.  Masyarakat Baduy-Luar sudah mulai memakai baju buatan pabrik, kasur, gelas, piring, sendok, sendal jepit, blue jeans, sabun, sikat gigi, senter, dan patromaks; bahkan sudah cukup banyak masyarakat Baduy yang telah menggunakan telepon seluler.  Larangan penggunaan kamera dan video camera hanya berlaku pada masyarakat Baduy-Dalam; sedangkan pada Baduy-Luar sudah sering stasiun TV mengekspose kehidupan mereka. Beberapa masyarakat di Baduy-Luar sudah ada yang  berdagang di kampungnya masing-masing. Dalam hal kepemilikan lahan, yang semula semua lahannya milik adat, khusus di Baduy-Luar telah menjadi milik perorangan dan bisa diperjualkan sesama orang Baduy.
Dinamika sosial dan budaya masyarakat Baduy berdampak juga pada pengelolaan hutan, lahan, dan lingkungannya.  Peningkatan jumlah penduduk yang mengakibatkan berkurangnya luas kepemilikan lahan pertanian setiap keluarga, selalu menjadi perhatian ketua adat. Masyarakat Baduy-Luar yang sudah tidak memiliki lahan pertanian di dalam wilayah Baduy diharuskan mengolah lahan di luar wilayah, sedangkan masyarakat Baduy-Dalam mulai memperpendek masa bera lahannya. Ketua adat Baduy selalu mengingatkan kepada seluruh warganya untuk tidak membuka lahan hutan menjadi lahan pertanian.  Musyawarah tentang larangan membuka hutan selalu disampaikan setiap tiga bulan sekali yang dihadiri oleh seluruh kepala kampung Baduy.  Pertemuan rutinan itu dilanjutkan dengan pemeriksaan seluruh batas kawasan hutan Baduy untuk melihat kondisi hutannya dan mengingatkan tentang batas-batas kawasan hutan kepada seluruh warga Baduy.
Bertambahnya jumlah penduduk juga meningkatkan kebutuhan kayu pertukangan untuk membuat rumah.  Satu rumah untuk keluarga Baduy rata-rata membutuhkan 300 batang kayu tiang (10 cm x 10 cm x 3 m), 150 batang kayu papan (10 cm x 2,5 cm x 3 m), 30 lembar bilik bambu (2,7 m x 3 m), 600 lembar atap daun kirai, dan 30 batang bambu untuk lantainya (palupuh).  Bahan untuk membuat atap rumah, bilik, dan lantai tidak menjadi permasalahan karena jumlahnya melimpah dan mudah untuk dibudidayakan.  Kebutuhan akan kayu pertukangan yang menjadi masalah dalam membuat rumah.  Awalnya kebutuhan kayu pertukangan dapat diperoleh dari ladangnya yang sudah di-bera-kan lebih dari 10 tahun.  Ladang yang di-bera-kan lebih dari 10 tahun akan menghasilkan jenis-jenis kayu yang dapat digunakan untuk tiang seperti kayu kecapi, kihiang, dan sebagainya.  Namun, dengan perubahan masa bera menjadi 5 tahun, jenis-jenis kayu tersebut belum layak untuk dijadikan tiang.  Untuk mengatasi hal tersebut, aturan adat yang semula melarang menanam tanaman kayu di ladang berangsur-angsur mulai mengendur.  Dalam lima belas tahun terakhir ini, masyarakat Baduy-Luar diperbolehkan menanam tanaman kayu di ladangnya.  Jenis tanaman kayu yang ditanam masyarakat Baduy-Luar di ladangnya diantaranya adalah sengon, mahoni, kayu afrika, sungkai, aren, dan mindi.  Tanaman kayu tersebut akan ditebang pada saat akhir masa bera.  Kayu hasil penebangannya ada yang dipakai sendiri dan ada pula yang sebagian dijual ke masyarakat luar.  Dari sisi konservasi, penanaman jenis-jenis tanaman kayu selama menunggu masa bera dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sekaligus melindungi tanah dan lahannya dari erosi; sedangkan dari segi ekonomi akan meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus mengatasi masalah kekurangan kayu.  Saat ini, seluruh lahan yang dikelola oleh masyarakat Baduy-Luar ditanami tanaman kayu yang penanamannya dilakukan bersamaan pada saat menanam padi.  Untuk di Baduy-Dalam, penanaman jenis tanaman kayu di ladang tetap dilarang; hanya saja masyarakat diperbolehkan mengambil kayu di hutan dengan batasan diameter yang boleh ditebang tidak lebih dari 20 cm.
Negeri penuh bencana alam
Saat ini, bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, serangan hama penyakit tanaman dan lain sebagainya seakan telah menjadi sahabat bangsa ini setiap tahunnya. Alam yang ramah dengan untaian mutu manikam di garis Khatulistiwa seakan tinggal kenangan dan cerita masa lalu bangsa ini. Dari mana dan kapan bencana alam ini dimulai ? Obrol-obrolan “orang tua” mengatakan bencana alam ini mulai marak pada tahun “sembilan puluhan” dan terus berlanjut sampai sekarang ini. Alam sudah tidak bersahabat lagi dengan penghuninya.
Tahun “sembilan puluhan”, dalam dunia kehutanan, merupakan perayaan ulang tahun keduapuluhan pembabatan hutan di Indonesia. Forest Watch Indonesia (2004) melaporkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun atau sekitar 4 hektar hutan ini rusak setiap menitnya. Dengan hitungan matematik, saat ini sudah sekitar 60-an juta hektar hutan Indonesia yang rusak, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan sebagian Papua. Kerusakan hutan ini diakibatkan karena pemberian ijin ekploitasi hutan, illegal logging, perambahan oleh masyarakat, dan alif fungsi hutan untuk tujuan lain seperti pertambangan, perkebunan, pemukiman, transmigrasi, dan sebagainya. Wajar saja, bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, silih berganti datang setiap saat, menyebar di seluruh Nusantara ini.
Hutan merupakan sumberdaya alam yang berfungsi mengatur tata air dan penyeimbang ekosistem bumi. Ekosistem hutan diibaratkan sebagai “busa raksasa” yang bisa menyerap air pada saat air melimpah (musim hujan) dan melepaskan air pada saat airnya sedikit (musim kemarau). Rusaknya hutan di negeri ini, telah mengganggu mekanisme “busa raksasa”, sehingga bencana banjir dan tanah longsor akan selalu hadir pada musim penghujan, dan kekeringan serta kekurangan air bersih akan muncul pada musim kemarau. Prof. Hasanu Simon, seorang Begawan Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada, mengutarakan bahwa hilangnya hutan di bumi ini menimbulkan “energi liar” dari sinar matahari yang semestinya diserap oleh vegetasi hutan. Energi liar tersebut diserap oleh bumi, dipantulkan di udara bebas, hasilnya bumi bergetar timbul-lah bencana gempa bumi, badai, angin puting beliung lokal dan sebagainya.
Bagaimana masyarakat Baduy mengelola hutan dan lingkungannya ?
Masyarakat Sunda Baduy merupakan sebutan yang diberikan bagi masyarakat Sunda yang hidupnya mengasingkan diri dari keramaian di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sebutan lainnya adalah orang Rawayan atau orang Kanekes. Pemerintah memberi hak ulayat kepada masyarakat Baduy untuk mengolah lahan dan lingkungannya seluas 5.101,8 hektar sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 13 tahun 1990, dan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Bagi masyarakat Baduy, pemberian hak ulayat ini seperti pengakuan yang diberikan oleh Kerajaan Banten pada masa lampau, dimana mereka berhak mengatur tatanan hidupnya dalam segala hal dan setiap satu tahun sekali memberi upeti pada penguasa. Masyarakat Baduy mempunyai struktur tatanan hukum adat yang tunduk dan patuh kepada tiga puun sebagai satu kesatuan (trias politica), sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan adat yang berada di Kampung Cikeusik, Kampung Cibeo, dan Kampung Cikartawana. Sistem struktur hukum adat di perkampungan masyarakat Baduy memegang peranan penting dalam mengayomi semua lapisan warganya baik dalam bidang kemasyarakatan ataupun dalam mengelola lingkungan alamnya.
Jumlah penduduk Baduy di wilayah Desa Kanekes sampai dengan bulan Juni 2009 adalah 11.172 jiwa terdiri dari 2.948 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 58 kampung. Struktur masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu masyarakat Baduy-Dalam (Baduy Tangtu) dan Masyarakat Baduy-Luar (Baduy Panamping). Wilayah Baduy-Dalam memiliki luas 1.975 hektar dengan jumlah penduduk 1.083 orang (281 KK) yang tersebar di tiga kampung; sedangkan wilayah Baduy-Luar luasnya 3.127 hektar dengan jumlah penduduk 10.089 (2.667 KK) tersebar di 55 kampung. Masyarakat Baduy tidak mengenal sistem pendidikan atau sekolah formal. Adat melarang warganya untuk bersekolah. Mereka berpendapat bila orang Baduy bersekolah akan bertambah pintar, dan orang pintar hanya akan merusak alam sehingga akan merubah semua aturan yang telah ditetapkan. Pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat Baduy lebih banyak dilakukan melalui ujaran-ujaran yang disampaikan oleh orang tuanya, terutama tentang buyut karuhun (larangan leluhur) tentang bagaimana memanfaatkan alam lingkungannya. Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah berladang padi tanah kering. Sistim perladangannya adalah berladang berpindah dengan masa bera (mengistirahatkan lahan), pada saat ini, selama 5 tahun. Mata pencaharian sampingan saat menunggu waktu panen atau waktu luang adalah membuat kerajinan tangan dari bambu (asepan, boboko, nyiru, dll), membuat koja (tas dari kulit kayu), masuk ke dalam hutan mencari rotan, pete, ranji, buah-buahan dan madu, berburu, membuat atap dari daun kirai, membuat alat pertanian seperti golok dan kored.
Kegiatan utama masyarakat Baduy dalam menjalani hidup, pada hakekatnya terdiri dari pengelolaan lahan untuk kegiatan pertanian (ngahuma) dan pengelolaan serta pemeliharaan hutan untuk perlindungan lingkungan. Oleh karena itu tata guna lahan di Baduy dapat dibedakan menjadi : lahan pemukiman, pertanian, dan hutan tetap. Lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk berladang dan berkebun, serta lahan-lahan yang diberakan. Hutan tetap adalah hutan-hutan yang dilindungi oleh adat, seperti hutan lindung (leuweung kolot/titipan), dan hutan lindungan kampung (hutan lindungan lembur) yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan, seperti hutan yang terletak di Gunung Baduy, Jatake, Cikadu, Bulangit, dan Pagelaran. Hutan tetap ini merupakan hutan yang selalu akan dipertahankan keberadaannya.
Dalam pemanfaatan lingkungannya, masyarakat Baduy sangat patuh terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti : (1) dilarang merubah jalan air, misalnya membuat kolam ikan, mengatur drainase, dan membuat irigasi; pertanian padi sawah dilarang, (2) Dilarang mengubah bentuk tanah, misalnya menggali tanah untuk membuat sumur, meratakan tanah untuk pemukiman, dan mencangkul tanah untuk pertanian. Rumah masyarakat Baduy relatif sama; lantainya dari bambu (palupuh), atapnya dari daun kirai (hateup), dindingnya dari anyaman bambu (bilik), dan tiang-tiangnya dari kayu, (3) Dilarang masuk hutan titipan (leuweung titipan) untuk menebang pohon, membuka ladang atau mengambil hasil hutan lainnya. Masyarakat Baduy membagi tata guna lahannya menjadi dua fungsi utama, yakni kawasan perlindungan lingkungan (hutan lembur dan hutan titipan) dan kawasan budidaya (lahan pertanian dan pemukiman). Kawasan perlindungan lingkungan mutlak tidak bisa dialihfungsikan untuk kegiatan apa pun; (4) Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, obat pemberantas hama penyakit, menggunakan minyak tanah, mandi menggunakan sabun, menggosok gigi menggunakan pasta, dan meracun ikan; (5) Dilarang menanam tanaman budidaya perkebunan seperti : kopi, kakao, cengkeh, kelapa sawit, dan sebagainya, dan (6) Dilarang memelihara binatang ternak kaki empat, seperti kambing, sapi dan kerbau.
Aturan dan larangan yang dianut oleh masyarakat Baduy, seakan-akan merupakan hal yang mustahil terjadi di masyarakat umum. Namun inilah kenyataan yang terjadi di komunitas Masyarakat Baduy, yang jaraknya tidak mencapai 200 km dari Ibu Kota Jakarta. Makna dari larangan-larangan tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat umum sekarang ini, mulai dari bendungan dengan banjirnya, sawah dengan hamanya, penebangan hutan dengan ekploitasi sumberdaya alam di dalamya, pupuk dan insektisida dengan pencemarannya, kopi dan sawit dengan pembabatan hutannya, dan sebagainya. Hikmah yang perlu diambil dari perilaku Masyarakat Baduy adalah kesederhanaan dan hilangkah keserakahan, cintailah lingkungan jangan alih fungsikan alam yang ada hanya karena untuk kesenangan sesaat.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sisindiran-Wawangsalan Bahasa-Basa Sunda


Sisindiran-Wawangsalan Bahasa-Basa Sunda, Bahasa kolot mah sisindiran téh asalna tina kecap sindir. Mun nurutkeun kamus Basa Sunda karangan R.Satjadibrata, sindir téh hartina: “Kecap atawa omongan anu hartina henteu sacéréwéléna/saujratna” (ilikan kamus Basa Sunda karangan R.Satjadibrata, kaca 376).
Sisindiran téh nyaéta: omongan anu dibalibirkeun, anu dibungkus. Nya kawajiban urang anu kudu mesékna sangkan ngarti kana naon eusina, tegesna mah sangkan ngarti kana naon anu dimaksud ku nu ngomong atawa nyindiran téa.
Minangka parabot pikeun mesékna téa, urang kudu surti, lemes rasa seukeut harti. Tah mun geus kitu mah, kakara urang bakal bisa ngarti kana maksudna, mun teu kitu mah nya lapur wéh.
Mun ditilik tina wangunanana, sisindiran téh bisa dibagi kieu:

1. Wawangsulan/wawangsalan:
a) Bangbalikan lanjaran
b) Bangbalikan dangding
c) Wawangsalan dangding

2. Rarakitan:
a) Nu ngandung birahi
b) Nu ngandung piwulang
c) Nu ngandung lulucon

3. Paparikan:
a) Nu ngandung birahi
b) Nu ngandung piwulang
c) Nu ngandung lulucon (sésébréd)

Lamun eusi salah sahiji sisindiran “meupeuh” ka batur, disebut sésébréd, asalna tina kecap sébréd = ngabetrik, meupeuh ka batur, puguh waé karasana matak peureus.

Sésébréd, bisa mangrupa rarakitan atawa paparikan. Dina wawangsalan mah langka kapanggih. Jadi, pikeun nyindekkeun hiji rarakitan atawa paparikan bisa henteuna disebut sésébréd, urang kudu nalék eusi éta rarakitan atawa paparikan téa. Lamun eusina meupeuh ka batur, taaaahh.. nu kitu u ngarana sésébréd téh.

Jengglénganana atawa gurat badagna sisindiran téh. Tulisan ka hareup ku uing nyoba digetrut nu kaasup wangunan sisindiran. Pikeun contona kamungkinan sauted heula nya, engké weh tulisan dina waktu séjén khusus dipangnéangkeun conto-conto séjénna.

1.WAWANGSULAN/WAWANGSALAN

Wawangsulan asalna tina kecap wangsul (basa Jawa: wangsal), hartina wangsul atawa balik. Ku sabab kitu, wawangsulan téh osok disebut ogé bangbalikan.

Nilik kana wangunanana, wawangsulan/wawangsalan téh bisa dibagi tilu bagéan, nyaéta:
a) Bangbalikan lanjaran
b) Bangbalikan dangding
c) Wawangsalan dangding

a) Bangbalikan Lanjaran

Bangbalikan lanjaran, nyaéta: sisindiran anu sapadana (bait/kuplet) diwangun ku dua padalisan (jajar). Anu sajajar mimiti disebut cangkang, jajaran ka dua disebut eusi. Jumlah engang dina unggal-unggal jajaran kudu dalapan, purwakantina (sajakna ceuk basa Indonesia mah) nyaeta a – b, sarta aya bagéan anu disebut médium pikeun mindahkeun harti tina cangkang kana eusi.
Contona siga kieu ;

Teu beunang diopak kembung
teu beunang dientong-entong
(médiumna/eusina = lontong)
Teu beunang ditiwu leuweung
teu beunang dipikasono
(médiumna/eusina = kaso)

Ngeunaan bangbalikan lanjaran mah. Conto séjénna, engké baé ku uing dibérébétkeun nya. Énté ogé bisa nyieun sorangan asal saratna ulah lunta tina patokan-patokan nu geus dibéjérkeun tadi.

b) Bangbalikan Dangding
Bangbalikan dangding, nyaéta: bangbalikan lanjaran anu disusun tur dijieun dangding. Ku lantaran kitu, patokan-patokan anu aya dina bangbalikan lanjaran teu keuna pikeun bangbalikan dangding mah.

Ku lantaran dijieun dangding téa, nya patokan-patokanana ogé robah nurutkeun patokan-patokan dangding na baé. Upamana dangdingna dina wangun pupuh dangdanggula, dina dangdanggula téh sapadana aya sapuluh jajar, atuh cukup ku lima bangbalikan lanjaran. Lain deui lamun wangunna dina pupuh sinom. Dina sinom mah, cukup ku opat satengah bangbalikan lanjaran. Pon kitu dina wangun pupuh lianna, saperti dina kinanti, cukup ukur ku tilu bangbalikan lanjaran, jeung saterusna.

Sajaba tinu tadi dijéntrékeun, unggal jajaran bangbalikan dangding teu kudu dalapan engang, tapi gumantung kana aturan pupuh na téa. Jumlah engang unggal jajaran, guru laguna atawa rubah-robahna sora unggal tungtung jajaran (dangdingdeungna) éta kabéh gumantung kana aturan pupuhna.

Aturan nyusun bangbalikan lanjaranana sina selang sekar, cangkang jeung eusina paselang. Wangunan bangbalikan dangding saperti kitu urang sebut waé bangbalikan dangding model kahiji. Sabab, aya deui bangbalikan dangding modél sejenna, nyaeta: “bangbalikan dangding modél kadua”.

Dina bangbalikan dangding modél kadua ieu, cangkang jeung eusi téh disajajarkeun baé. Cangkang ayana dina angkatan wirahma, ari eusi ayana dina pungkasan wirahmana.

Méh teu mulek teuing ku uing dituliskeun atuh keur contona nya.

Conto Bangbalikan dangding model kahiji

Dangdanggula
Méga beureum surupna geus burit (cangkang)
ngalanglayung panas pipikiran (eusi)
Cikur jangkung jahé konéng (cangkang)
naha teu palay tepang (eusi)
Sim abdi mah ngabeunying leutik (cangkang)
ari ras cimataan (eusi)
Gedong tengah laut (cangkang)
ulah kapalang nya béla (eusi)
Paripaos gunting pameulahan gambir (cangkang)
kacipta salamina (eusi)

Sinom
Balandongan ngujur jalan
sok hayang geura los indit
Kendang gedé pakauman
dagdigdug rasaning ati
Balé diréka masjid
nya pikir bati rumajug
Tegal tengah nagara
laun-laun sugan jadi
emas ancur sakieu nya karipuhan.

Conto Bangbalikan dangding model kadua (cangkang jeung eusi disajajarkeun)

Dangdanggula
cai langit duh pupujan ati
laleur hurung duh raja mustika
puputon sekar kedaton
pulas beureum duh lucu
sanggah seungit sumpah gé wani
yén engkang batur cadas
niat badé estu
tilam kuda seja béla
santen bodas sanajan tepi ka pasti
minyak sapi geus téga.

c) Wawangsalan Dangding

Saacan nyawalakeun bab wawangsalan dangding, urang bédakeun heula antara wawangsalan dangding jeung dangding. Boh dina wawangsalan dangding, boh dina dangding, duanana ogé bisa ngagunakeun pupuh anu jumlahna 17 téa. Ngan, dina wawangsalan dangding mah ngandung unsur-unsur bangbalikan. Tegesna, ngandung unsur-unsur “nu dibalikeun deui” atawa ngandung unsur “pesékeun”. Sedengkeun dina dangding mah teu aya unsur-unsur kitu, éstu ngan sacéréwéléna baé dina ngagambarkeun kaayaan téh. Boh ngagambarkeun: kaéndahan alam, atawa papatah, kajadian, jeung sajabana ti éta. Saperti: “Guguritan Laut Kidul”, “Sasambat Kuda Kahar”, “Kiamat Leutik”, “Eling-Eling Masing Eling”, jeung sajabana.

Lamun dibandingkeun jeung bangbalikan dangding, bédana nyaéta: dina wawangsalan dangding mah wangunanana téh sapada (satu bait. Ind) cangkang wungkul, sapada deui eusi wungkul.

Contona:

Sinom
(pada kahiji cangkang wungkul)

siki tarum rina kembang
badoang manuk badori
eunteup dina kalijaga
manuk walét jangjang beusi
cihcir disada peuting
dina pucuk kembang tanjung
kuma piakaleunana
melak supa semar jadi
daun bakung pisitan buah kokosan

(pada kadua eusi wungkul)

béak taun béak bulan
ngadagoan bagja diri
teu ayeuna sugan jaga
rék weléh inggis ku bisi
mikir beurang jeung peuting
ripuh dipupuk ku bingung
kuma piakaleunana
sangkan téréh ngajadi
gering nangtung mikiran munggah hoshosan.

Naon-naon nu dimaksud sisindiran dina wangun kahiji, nyatana wawangsalan. Syukur lamun teu kaharti, jadi Énté bisa néang sumber séjén nu leuwih jéro. Ayeuna urang teruskeun kana wangun sisindiran nu kadua, nyaéta: Rarakitan.

RARAKITAN

Rarakitan, asal kecapna tina rakit, hartina: pasang. Sarakit, hartina sapasang. Jadi, rarakitan pihartieunana téh: Papasangan.

Anu disebut rarakitan nyaeta: sisindiran anu sapadana diwangun ku opat jajar. Dua jajar (jajaran kahiji jeung kadua) mangrupa cangkang, dua jajar deui (jajaran katilu jeung kaopat) mangrupa eusina. Jajaran kahiji téhr, ngarakit jeung jajaran katilu, lamun jajaran nu kadua ngarakitna jeung jajaran kaopat. Purwakantina : a – b – a – b.

Upama nilik kana eusina, rarakitan téh bisa dibagi-bagi jadi tilu bagéan, nyaéta:
a) nu eusina ngandung birahi (karesep Énté lah nu kieu mah)
b) nu eusina ngandung piwulang (nu Énté sok hareudang geningan mun dipapatahan téh)
c) nu eusina ngandung lulucon (sésébréd)

Conto rarakitan nu ngandung birahi

kaduhung kuring ka Lémbang
ka Lémbang ka Cibiana
kaduhung kuring kagémbang
kagémbang kieu rasana

sapanjang jalan Soréang
moal weléh diaspalan
sapanjang tacan kasorang
moal weléh diakalan

Conto rarakitan nu ngandung piwulang

meuli wajit jeung jawadah
kapaké hajat kiparat
masing rajin nya ibadah
kapaké dunya akhérat

méméh ngagelarkeun kasur
samak heula ambéh rinéh
méméh ngomongkeun ka batur
tilik heula awak manéh (hehehehe….burayut kénéh euy…)

Conto rarakitan nu ngandung lulucon (sésébréd)

majar téh cau lampénéng
cau kepok dina nyiru
majarkeun téh lengkéh koneng
gening nya dekok nya gembru (hahahaha…énté pisan ieu mah euy…)

rarasaan melak cau
teu nyaho mun melak cabé
rarasaan asa lucu
teu nyaho mun matak réhé

Héhéhéhé….kitu meureun nu dimaksud rarakitan ogé. Saméméh panon uing beurat ku tunduh, urang tuluykeun kana wangun sisindiran nu katilu nya, nyaéta: Paparikan.

PAPARIKAN


Paparikan, asalna tina kecap parek = deukeut. Wangun paparikan sarua jeung rarakitan. Anu ngabédakeunana, nyaéta: dina paparikan mah tara aya kecap anu dibalikan deui. Cangkang jeung eusina ngan “deukeut sorana” wungkul. Nilik kana eusina ogé sarua jeung rarakitan. Siga kieu conto-contona mah.

Conto paparikan nu eusina ngandung birahi

ngala saga sisi huma
disamberan ku waliwis
tiis raga tiis sukma
lantaran jadi ka nu geulis

suwangkung ulah dihumbut
pikeun tihang papanjangan
nu jangkung ulah sok imut
bisi kuring kaédanan.

Conto paparikan nu eusina ngandung piwulang

ninyuh ubar ku cipati
diwadahan piring gelas
anu sabar éta pasti
ku Allah dipikawelas

papan kiara ditatah
iraha jadi lomari
mun bisa miara létah
mokaha salamet diri

Conto paparikan nu eusina ngandung lulucon (sésébréd)

jeruk purut Cikaruncang
jambu aér Wanayasa
camerut hayang ka bujang
susu laér teu karasa

cau kepok keur rumégang                                          
dieunteupan bondol héjo
keur dekok katambah égang
ditambahan olol lého

Rabu, 12 Oktober 2011



                Ciri Urang Sunda 

1. Logat sunda

Pami kapendak jalmi, kadang awalna sok nebak-nebak, sunda sanes nya? sok asa kos detektif wae kitu pami ningali jalmi nu gaduh paras urang sunda...bade negor,sieun salah, tapi teu negor oge da asa teu raos...saatos diperhatikeun, leres geuning urang sunda... terang timana coba...?

Atanapi pernah nuju di singapore, pas abdi naroskeun dimana sakolaan kanggo murangkalih, abdi teh naros ka ibu-ibu, putrina nuju ameng, ningali putrinamah kawas Cina, janten abdi teh naros nganggo bahasa Inggris... Pas anjeuna ngajawab, sawios ku bahsa Inggris, langsung abdi teh nyarios ..."teteh asalna ti Sunda sanes ?" Alhamdulillah teu lepat...malah janten sobatan, da anjeuna ge tadinamah nyangka abdi teh urang Melayu.

Urang sunda, dimana-mana asa aya wae. Tos janten picariosan dimana-mana pami urang Sunda teh gaduh ciri khusus. Pami nyarios tara hilap kana legokna...pasti kos ngadangukeun lagu saurna. 

Malah aya picarioseun..pami aya preman ti Sunda, moal aya nu sieuneun, soalna preman sunda mah moal tiasa ngabentak, da nyariosna angkleung-angkleungan... Karunya pisan nya?






         


     2. Nami urang sunda


Atanapi pami teu kapendak jalmina, ngan saukur ngadangu namina,atau maos namina di blog, pasti kaciri pami urang sunda. Rata-rata urang sunda mah sok resep ngaulang-ulang namina. Dimana-mana, henteu di Bandung, di Bogor, di Garut, pokonamah di daerah Sunda, pasti namina salarami... urang sunda pisan. Salah sahijina nya abdi, Ina Inayah...sunda pan ? Hayo saha deui nu ngaraos sunda asli ?

Janten urang sunda sareng cirina moal tiasa dipisahkeun. Emang aya oge sih nu tos ical legok sundana, aya oge nu tiasa nyarios ef atau ve nu leres. Atau aya oge urang sunda nu namina teu diulang dua kali, tetep gaduh arti pan ? di doa'keu nuju dipasihan namina kapungkur nuju orok. Mangkana urang teh kedah bangga oge, ternyata urang sunda teh aya dimana-mana, di sadaya benua, henteu di jawa barat hungkul, henteu di Indonesia hungkul... Bangga pan ?

Di benua mana oge, rata-rata pami urang sunda mah sok gaduh kumpulan khusus, sanes nga-Gank...tapi urang sunda teh sok resep ngariung, resep ngumpul. minimal, janten ngobatan pikasonoeun ka lembur nu tebih tea.

                                 



Minggu, 09 Oktober 2011

                     RUMAH ADAT SUNDA







RUMAH sudah menjadi kebutuhan yang penting bagi manusia. Selain tempat berteduh, rumah pun dijadikan tempat bersosialisasi seluruh anggota keluarga. Selain menjadi bagian terpenting bagi kehidupan, bentuk dan gaya pun sengaja dibuat untuk menambah keindahan. Bahkan dijadikan identitas suatu suku atau komunitas di suatu tempat.



Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, tentunya mempunyai bentuk dan nama rumah adat sendiri. Masing-masing rumah adat mempunyai fungsi dan manfaat yang hampir sama, yaitu sebagai tempat tinggal, namun ada pula yang dijadikan tempat keramat. 



Bahan bangunan yang digunakan untuk membuat rumah adat, baik di Jawa Barat maupun di daerah lainnya, umumnya terdiri atas bahan alami, seperti kayu, bambu, ijuk, daun kepala, sirap, batu maupun tanah. Selain itu, bangunan rumah adat pun biasanya jarang langsung menempel ke tanah (berlantai tanah), kecuali rumah adat di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Papua. Sedangkan di daerah lainnya di Indonesia, termasuk rumah adat di Jawa Barat, biasanya dibangun berbentuk panggung. Hal ini untuk sirkulasi angin, juga menghindari binatang (binatang buas maupun melata). 

Khusus di tanah Parahyangan, rumah adat biasanya dibangun di atas tanah sekitar 40-60 cm dengan menggunakan batu. Biasanya dilengkapi golodog berupa tangga dan teras depan. Sedangkan bentuk atap atau suhunan sangat bergantung letak geografis di mana rumah itu dibangun. 

Bentuk suhunan rumah Sunda sangat disesuaikan dengan keadaan alam serta kebutuhan masyarakat urang Sunda. Di tanah Parahyangan banyak bentuk gaya rumah, yang umumnya diperlihatkan dari bentuk atapnya (suhunan atau hateup). Ada beberapa susuhunan yang dikenal masyarakat Sunda, seperti suhunan jolopong atau regol, suhunan tago/jogog anjing, suhunan badak heuay, suhunan perahu kumureb/nangkub, suhunan capit gunting, suhunan julang ngapak, suhunan buka palayu, dan buka pongpok.

Suhunan jolopong (pelana), merupakan bentuk rumah yang atapnya memanjang. Atap rumah jolopong ini biasa juga disebut suhunan panjang, gagajahan, dan regol. Sedangkan atap rumah jogog atau tagog anjing, bentuknya seperti anjing yang sedang duduk. Bagian depan mirip mulut anjing, menjulur menutupi teras rumah (ngiuhan emper imah).

Atap rumah bentuk badak heuay, biasanya bentuk atapnya mirip bentuk atap rumah tagog anjing, tapi di bagian atas suhunan-nya ada tambahan atau atap belakang dan depan yang menyerupai badak menguap. 

Atap rumah parahu kumureb/nangkub, yakni potongan bentuk atap yang mirip perahu terbalik (lihat gunung tangkubanperahu). Di daerah Tomo, Kab. Sumedang, bentuk rumah seperti ini disebut juga jubleg nangkub. Sedangkan atap rumah bentuk capit gunting, yakni atap rumah yang setiap ujungnya dihiasi kayu mirip gunting yang siap nyapit. Bentuk ini sering juga disebut srigunting. Sementara atap julang ngapak, dilihat dari depan, suhunan kiri kanannya mirip sayap burung yang terentang. Sedangkan julang-suhunanna sebanyak empat penjuru menyambung dari sisi turun ke bawah. Sambungan bagian tengah menggunakan tambahan mirip gunting muka di bagian puncaknya. Julang ngapak bentuknya mirip burung yang sedang terbang.

Atap rumah bentuk buka palayu, yakni atap rumah yang suhunan-nya mirip suhunan rumah adat Betawi dan di bagian depannya ada teras yang panjang. Sedangkan buka pongpok, bentuknya mirip buka palayu, namun bagian pintunya diubah dan diarahkan langsung ke bagian jalan.



Sangat jarang




Namun sayang bentuk dan gaya rumah adat Sunda ini sudah sangat jarang ditemui, khususnya di daerah perkotaan yang sudah ganti dengan nama dan gaya dari Barat. Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. Kemajuan zaman dan adanya serangan budaya dari bangsa lain, membuat banyak bentuk rumah orang Sunda lebih bergaya modern.



Padahal masyarakat Sunda baheula, membuat gaya dan nama suhunan ini bukan sembarang. Selain itu fungsi dan namanya pun mempunyai arti masing-masing. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sakurilingna. Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern lainnya. Untuk penguat antartiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa. Sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kepala atau duan rumia. Sangat jarang menggunakan genting.

Beruntung keberadaan kampung adat maupun kampung budaya di Jawa Barat sangat menolong eksistensi bentuk dan gaya suhunan rumah adat Sunda. Bukan hanya nama-nama suhunan rumah yang dipertahankan, tetapi bentuknya pun dipertahankan dan dikembangkan sesuai bentuk aslinya.

Dalam komunitas masyarakat adat urang Sunda, banyak bangunan yang pemakaiannya umum, seperti gedung, yakni rumah yang besar dan kuat. Biasanya menggunakan bahan bangunan yang ditembok.

Joglo, yakni sebuah rumah kecil dan sederhana (terbuat dari tembok dan kayu). Bale kambang, yakni rumah-rumahan dangau, dibangun di atas kolam. Poporogok, yakni rumah berbentuk dangau kecil tapi lumayan. Pakuwon, yakni pekarangan rumah milik sendiri. Ranggon, yakni dangau yang sangat tinggi kolongnya dan dibangun di atas pohon yang tinggi. Regol, yakni bangunan yang mempunyai daun pintu lebar dan saung, yakni dangau kecil yang dibangun di tengah sawah atau ladang tanpa menggunakan dinding, fungsinya untuk istirahat petani.

Babancong, yakni sebuah bangunan kecil di sisi alun-alun (dulu), berbentuk panggung untuk para pejabat. Balandongan, yakni bangunan rumah sementara untuk menerima tamu ketika ada hajatan maupun hiburan. Bale desa, yakni kantor pamong desa. Bale kota, yakni kantor wali kota atau bupati. Bale watangan, yakni gedung pengadilan. Gedong songko, yakni rumah bupati baheula. Kadaton atau keraton, pendopo, yakni teras luas di bagian depan gedung kewedanaan atau balai kota. Kaputren atau kaputran, yakni rumah dan bangunan untuk putri raja. Benteng, yakni bangunan kuat yang dijadikan benteng pertahanan. Jongko, yakni warung untuk berjualan dan lain-lain. Semua jenis bangunan dan nama bangunan tersebut, saat ini sudah tidak digunakan lagi karena tergerus oleh zaman. (kiki kurnia/"GM"/berbagai sumber)

Rabu, 05 Oktober 2011

                     Kesenian Tradisional Jawa Barat
                              
                               Tari Jaipong




Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

MENYEBUT Jaipongan sesungguhnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.


Sejarah
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).


Perkembangan Tari Jaipong
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).


Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan dan tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
Mari kita lestarikan budaya lokal dari ancaman kaum penyeragam!